Aswaja An-Nahdliyah Perwujudan Islam yang Paripurna
SMP Raden Fatah Batu - Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan sekaligus organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia bahkan di dunia. NU lahir dan berkembang dengan corak dan kulturnya sendiri. Sebagai organisasi berwatak keagamaan Ahlussunnah Wal Jama'ah, maka NU hadir dengan mengawal dan mengakomodir berbagai madzhab keagamaan yang ada di sekitarnya. NU tidak pernah berpikir menyatukan apalagi menghilangkan madzhab-madzhab keagamaan yang ada.
Ahlussunnah Wal Jama'ah An Nahdliyah (Aswaja ala NU) merupakan pengejawantahan dari Islam yang paripurna (kaffah). Aswaja yang dimaksud di sini adalah Aswaja ala NU yang dalam beragama sudah pasti memiliki rujukan dan pedoman yang jelas dalam beragama dan menjalankan syariatnya terkait dengan paham Aswaja. Sebagai warga NU kita memiliki rujukan yang bisa dijadikan sebagai sumber untuk memahami Aswaja, yaitu yang paling awal adalah konsep (Aswaja) dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Aswaja ala NU sebagaimana yang dirumuskan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah yang memiliki tiga dasar dalam menjalankan agama islam yang diyakininya.
Pertama, akidah NU merujuk pada Imam Abu Musa Al Asy'ari dan Abu Hasan Al Maturidi. Itu pilihan yang moderat, pilihan yang paling relevan dalam konteks kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Teori kasab (usaha) adalah inti dari akidah Asy'ariyah. Bagi pengikut Asy'ariyah, apa yang terjadi di dunia ini adalah karena usaha manusia dan juga ketentuan Tuhan. Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Hal ini berbeda dengan penganut paham Jabbariyah yang memiliki keyakinan bahwa semua yang terjadi itu ditentukan Tuhan dan Qadariyah yang meyakini semua ditentukan oleh manusia. Kita tidak bisa langsung mengatasnamakan Tuhan, menurut Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'arı "Kita harus berikhtiyar, tapi kita juga jangan lupa dalam setiap ikhtiyar kita pasti ada ketentuan Allah SWT-
Kedua, fiqih NU bersandar pada empat imam madzhab yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hambali. Dalam berfikih, NU juga mempraktikkan Islam Kaffah (paripurna) karena merujuk kepada Imam yang paling hebat dalam bidang fiqih. Konsep bermadzhab ini juga sangat jelas menunjukkan bahwasanya NU dalam beragama sangat mengedepankan persambungan sanad keilmuan dari guru ke atasnya sampai bersambung kepada Rasulullah SAW.
Ketiga, tasawuf NU merujuk pada Imam Junaidi Al Baghdadi dan Imam Al Ghazali. Tasawuf Aswaja An-Nahdliyah memiliki prinsip, bahwa hakikat tujuan hidup adalah tercapainya dunia akhirat dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah, dicapai melalui perjalanan spiritual, yang bertujuan untuk memperoleh hakikat dan kesempurnaan hidup manusia (insan kamil). Namun hakikat yang diperoleh tersebut tidak boleh meninggalkan garis-garis syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Syariat harus merupakan dasar untuk pencapaian hakikat. Inilah prinsip yang dipegangi tashawwuf (tasawuf) Aswaja.
Jadi konsep aswaja NU itu adalah, konsep yang sangat luar bisa karena memadukan antara tiga dimensi, dimensi akidah, fiqih dan tasawuf. Siapa saja yang memahami tiga dimensi tersebut maka orang tersebut akan memiliki pandangan dan tindakan yang moderat. Jika ada warga NU yang tidak moderat, maka dia tidak berpegang teguh dan menjalankan konsep Aswaja ala NU menurut Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Jika sudah moderat dalam beragama maka dalam menjalankan agama tidak mudah menyalahkan orang.
Oleh: Ahmad Nuril Musthofa, M.Pd.
(Guru Aswaja SMP Raden Fatah Batu)