Sinergi Agama, Budaya, dan Aswaja di Tengah Perkembangan Zaman
"Kita ambil contoh yang ringan saja laut, kalau musim kemarau atau musim penghujan kira-kira per detik itu berapa juta kubik yang masuk ke laut," Karena laut punya jati diri dan air laut tidak pernah berubah sehingga harga diri kehormatannya sangat luar biasa,"."Okelah air bah boleh masuk, air limbah boleh masuk ke laut tapi tidak ada yang hidup di tengah-tengah laut semua minggir,". "Semua dihempas oleh gelombangnya air laut mundur kalian mau tidak mau harus mundur.". Saat musim penghujan tiba banyak air tawar yang masuk ke laut tapi tidak pernah merubah rasa asin dari laut tersebut. Semakin asin air laut, pendiriannya, jati dirinya semakin kuat, tidak mudah terprovokasi dengan tawarnya, atau lumpur yang masuk ke lautan," "Saya mendambakan Bangsa Indonesia seperti ini," terang Maulana Habib Luthfi bin Yahya seperti dikutip dari akun TikTok @NU Online Jatim.
Sepintas selalu saja teringat tentang pentingnya memiliki jati diri untuk mampu bertahan di zaman yang sudah banyak gaduhnya ini. Jati diri ini bisa didapatkan dengan berbagai cara-pengalaman individu maupun berkelompok-salah satunya dengan dekat dan belajar dari para kyai-kyai, habaib, guru-guru kita yang akrab dengan budaya dan agama. Bicara jati diri, tentunya kita bicara Indonesia yang tidak bisa lepas dari agama dan budaya. Budaya yang bersinergi dengan agama-begitu pula sebaliknya akan mampu menjadi pondasi yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Tak bosan kita mendengar sebuah kalimat dari presiden pertama Republik Indonesia yang mengungkapkan "kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi orang Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat budaya nusantara yang kaya raya ini". Hal ini selaras dengan apa yang sering digaungkan oleh KH Bahauddin Nur Salim atau yang sering dipanggil dengan sebutan Gus Baha bahwasanya beliau sering menggunakan pakaian yang dipakai kemana-mana, peci berwarna hitam, kemeja putih serta memakai sarung, dimana itu merupakan pakaian khas kyai-kyai jawa dan memang begitu adanya tanpa ada maksud untuk merendahkan budaya pakaian dari daerah ataupun Negara lain. Hal ini menjadi pengingat bahwa pentingnya memegang teguh jati diri yang ada dan hidup pada diri kita selama ini.
Secara fisik, agama membawa budaya dari mana agama itu mulanya berkembang, salah satu contohnya adalah penggunaan bahasa. Seperti yang pernah dikatakan oleh Cak Nun dalam momen Maiyahan beliau, "Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan untuk "aku" jadi "ana", "sampean" jadi "antum", "sedulur" jadi "akhi", pertahankan apa yang jadi milik kita, kita harus serap ajarannya bukan budaya Arabnya". Jika kita cerna kembali pernyataan Cak Nun tersebut, pada hakikatnya isi itu lebih penting yaitu kebajikan-kebajikan yang terkandung di dalamnya yang perlu dibawa dalam bertutur dan berperilaku sehari-hari, bukan budayanya yang boleh jadi sangat berbeda dan tidak cocok ketika diterapkan dengan budaya yang ada di Indonesia. Indonesia merupakan negara yang dibentuk dari berbagai perbedaan. Dengan satu keinginan merdeka, Indonesia pun terbentuk dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Maka tidak boleh ada satu golongan merasa paling dominan, paling berkuasa. Ini negara kebersamaan, negara yang dibangun berdasarkan kesepakatan dari berbagai perbedaan untuk bersatu.
Ketika kita menengok ke belakang yaitu ke masa permulaan penyebaran Islam di Tanah Jawa, maka pastilah hal itu akan berkait dengan kisah Walisongo dari masa ke masa. Disebutkan oleh Agus Sunyoto (2017) dalam bukunya Atlas Walisongo, seni pertunjukkan merupakan sarana yang sangat potensial sebagai media berdakwah. Pendekatan-pendekatan melalui seni yang sangat dekat dengan masyarakat pada saat itu ternyata mampu menjadi hal yang efektif dalam penyebaran ajaran agama. Nilai-nilai Islam diselipkan pada berbagai elemen dalam kesenian dan itu justru menjadikannya semakin kokoh dan kuat dalam menciptakan peradaban yang lebih maju tanpa mencabut masyarakat dari akarnya. Rasa kepemilikan terhadap budaya membawa agama juga ikut menjadi bagian dari milik mereka.
Namun, bagaimana dengan era kita sekarang? Banyak budaya dan amaliyah-amaliyah yang kita sendiri tidak tahu dari mana dan apa fungsinya. Yasin, Tahlil, Ziarah Kubur, Maulid Nabi Muhammad SAW, istighotsah misalnya, serta amaliyah-amaliyah lainnya sedikit demi sedikit kita tinggalkan begitu saja. Malu, ketinggalan zaman, tidak ada waktu merupakan alasan klasik yang sering diucapkan untuk tidak melakukan kegiatan tersebut. Apakah masih mau budaya kita diambil oleh Negara lain? Apakah masih mau amaliyah-amaliyah itu hilang dan diganti dengan kegiatan lain? Apakah menunggu sirna dulu baru kalian berbondong-bondong melaksanakan?
Kita berkaca dan melek dengan zaman sekarang. Apa yang sedang digandrungi oleh masyarakat sekarang ini? Apa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat saat ini? Apakah seni pertunjukan? Apakah pewayangan? Gosip selebriti? Tembang-tembang? Sosial media? Game online? Atau yang lainnya. Apapun itu, tetaplah gunakan sebagai sarana untuk memperkenalkan, mempromosikan, menyebarluaskan, menyiarkan Islam sebagai agama yang teduh dan penuh dengan nilai-nilai kebajikan di dalamnya. Bagaimana cara beragama yang sesungguhnya? Beragama tanpa melupakan keragaman. Anak kecil sampai orang dewasa, muda sampai tua, pengangguran sampai yang sok sibuk semuanya sangat akrab dengan teknologi, internet, dan aplikasi sosial media lainnya. Berawal dari hanya sekadar sebagai mempermudah komunikasi antar manusia, internet dan aplikasi sosial media lainnya merambat ke berbagai lini lain seperti toko atau kegiatan jual beli, game online, dalam pendidikan mempengaruhi metode mengajar yang baru yaitu melalui media internet baik itu secara langsung atau tidak, hingga ke ranah penyebaran agama.
Hal ini tentu memikat banyak kalangan di masa sekarang, yang mana orang ingin dengan secepat mungkin mendapat informasi yang dibutuhkan, terutama perihal agama. Orang tak butuh bertahun-tahun tinggal di pondok pesantren dan mengaji berbagai literatur agama, sekarang orang setelah pulang kerja dan dalam waktu istirahatnya, siswa setelah pulang sekolah, bisa membuka gawai dan mengakses internet dalam sekejap kemudian memilih dari mana ia ingin belajar dan tentang apa yang akan ia pelajari. Banyak orang memanfaatkan kemajuan ini untuk 'agama'. Tapi apakah hal ini bebas dari berbagai informasi bohong? Belum tentu.
Informasi yang ada di internet bisa jadi telah dipelintir dan digunakan untuk kepentingan suatu golongan apalagi golongan tersebut adalah golongan yang ingin merusak tatanan negara ini. Tentu kita butuh orang-orang yang paham betul mengenai agama. Kita butuh orang yang telah lama belajar mengenai ahlussunnah wal jamaah dari para kyai-kyai, habaib, guru-guru kita yang sanad keilmuannya memang jelas dan bersambung sampai dengan Rasulullah Saw. Sudah saatnya ahlussunnah wal jamaah digencarkan melalui media-media sosial, dan tentu tanpa mengabaikan aspek budaya yang ada di masyarakat karena di situlah salah satu urgensinya. Dakwah dengan memanfaatkan hal-hal yang digandrungi oleh masyarakat tanpa menghilangkan unsur budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat. Kita perlu bersinergi dalam menciptakan sebuah keharmonisan agama dan budaya untuk membentuk karakter atau jati diri bangsa yang siap menghadapai berbagai tantangan zaman. Wallahua'lam.
Yuda Dwi Elfanto, S.Pd.
(Guru PKN SMP Raden Fatah Kota Batu)